Apa yang membuatmu berubah?
Gadis itu mengingat kembali kekhilafan yang telah diperbuat pada masa itu. Enam bulan terakhir di 2024, gadis itu mengerjakan apa pun demi dianggap keren oleh insan lain. Akibat berambisi mengejar bayangan semu, ia rela mengorbankan apa pun termasuk mengesampingkan prioritasnya.
Atas dasar perasaan tidak enakan, gadis itu sampai-sampai merangkul semua peran yang bukan amanahnya. Atas dasar keinginan tuk dijuluki “pahlawan”, gadis itu rela mengorbankan pekerjaan utamanya yang justru merupakan bagian dari hidupnya. Atas dasar “nafsu”, gadis itu juga rela menjadi pesuruh bagi insan yang jelas-jelas menganggapnya sebagai babu.
Kembali lagi ke pertanyaan, apa yang membuatmu berubah?
Jawabannya singkat, yakni kekhilafan. Tuhan tiada hentinya menyadarkan, tapi lagi-lagi gadis itu lengah akan nikmatnya dunia fana. Padahal, dunia itu hanyalah bayangan. Sebuah wujud yang keberadaannya sangat dekat, tapi tidak akan mampu ditangkap dan dipeluk olehnya. Justru, ketika kedua mata kepala dan mata batinnya menatap ke depan dan jalan, bayangan itu akan mengikutinya tanpa ia perintah. Tapi entahlah. Sudah ke berapa kali ia menerabas larangan-Nya demi menggapai ambisi semu itu.
Bersyukur, pada akhirnya Tuhannya tidak mengabulkan keinginan itu. Sebab Tuhannya lebih tahu mana yang lebih baik, ketimbang gadis itu sendiri. Bukankah raga dan jiwanya juga termasuk milik Tuhannya?
Malam itu, ada sebuah kejadian tak terkendali yang berhasil mengukir dua hal yang sebenarnya ia butuhkan, yakni fokus dan konsisten. Jika selama ini dua kata itu hanyalah gaungan dari lisannya, maka malam itu nuraninya juga ikut menggaungkan jiwa dan raga gadis itu.
Melalui refleksi atas segala kekhilafannya, mulai dari melupakan keberadaan Allah sebagai Tuhannya, meringkus peran insan lain, mengabaikan peran dirinya sendiri, mengacuhkan harapan insan-insan yang tercinta, hingga mengeluhkan kekesalan pada tempat yang salah.
Betapa menyesalnya gadis itu. Padahal Tuhannya amat baik. Ditegur berkali-kali, tapi tetap saja menjorokkan raganya ke jurang kemaksiatan. Padahal Tuhannya telah menitipkan rezeki, tapi gadis itu tidak melampiaskannya pada jalan-jalan kebermanfaatan. Justru ia pergunakan rezeki itu untuk menempuh jalan-jalan kesesatan, yakni jalan yang penuh terjal lagi sesak karena debu yang bertebaran.
Fokus dan konsisten menjadi dua kata yang keluar kembali di tahun ini. Keluar dari perbedaan zona dan masa, kali ini dua senjata itu hendaknya menjadi resolusi ngeblog di tahun ini. Oleh karena itu, muncullah pembaruan dari artikel ini yang menjadi opini atas seorang penulis yang akhirnya menyadari kekhilafannya. Perbaikan dengan menambahkan sedikit jumlah kata serta menambahkan backlink sebagai wujud dari penerapan kaidah SEO on page. Jadi, mohon maaf jika tulisan ini berbeda dengan pemikiran kalian yang sedang membaca artikel ini.
“Kita gak usah mikirin orang lain udah sejauh apa, tapi kita harus mikirin kita udah sejauh apa.”
Kutipan favorit itu ia peroleh dari kanal YouTube nya Raditya Dika yang mengundang Kevin sebagai guest speaker di podcast-nya. Selain itu, dikotomi kendali yang menjadi cuplikan dalam mengisi mentoring juga kudu dicatat sebagai pengingat untuk kini dan nanti. Ringkasan cuplikannya kurang lebih seperti ini.
“Gimana cara lo menghadapi situasi yang ada di luar kontrol lo? Ya, cari yang bisa lo kendalikan.”
“Yang di dalam kuasa kita adalah output (usaha), sementara yang di luar kuasa kita adalah outcome (hasil dari usaha).”
Kata orang, pengalaman adalah guru terbaik. Kutipan itu juga kerap hadir di bagian bawah (footer) buku tulis yang ditulis dalam Bahasa Inggris, yaitu experience is the best teacher.
“In order to love who you are, you cannot hate the experience that shaped you.” – Andrea Dykstra.
Tulisan pada postingan ini menjadi karyanya yang sedang berada di fase pemulihan. Meskipun kata demi kata terangkai dalam waktu yang sekejap, namun dialog batin yang dilaluinya tidak dapat dikatakan sekejap. Semoga, Tuhan beserta semesta-Nya dapat membantu menyembuhkan dan menguatkan. Hingga membuat gadis itu ikhlas seutuhnya dan tidak lagi membenci kekhilafan yang telah ditorehkannya.
Posting Komentar
Posting Komentar