“Jika kita tak bisa menulis dengan baik, berarti kita tak bisa berpikir dengan baik. Jika kita tak bisa berpikir dengan baik, akan ada orang lain yang mengambil alih pikiran kita untuk kepentingan mereka.” – George OwellGenerasi Menulis merupakan salah satu bagian dari seri Generasi Emas. Dalam buku ini, Ahmad Rifa’i Rif’an mengatakan bahwa menulis menjadi salah satu keterampilan yang perlu dikuasai. Seperti kata ulama besar Imam Al-Ghazali bahwa,
“Kalau kau bukan anak raja dan bukan anak ulama, maka menulislah.”Penulis juga membahas secara mendalam, mulai dari mengapa kita harus menulis hingga bagaimana bisa menghasilkan banyak buku yang best seller berdasarkan pengalaman dan hasil risetnya. Seperti yang kita tahu, penulis buku ini dijuluki sebagai salah satu penulis muda produktif di Indonesia karena telah menerbitkan lebih dari 100 judul buku di usia dua puluhan.
Mindset Penulis
Menurut Mas Rifa’i, belajar menulis itu tidak seribet belajar main gitar, belajar melukis, belajar menari, belajar piano, atau belajar main tenis. Karena kita sudah mempelajarinya dari kecil. Jadi saat belajar menulis, kita tidak perlu lagi belajar dari dasar atau nol. Dalam diri kita sudah tersimpan kemampuan itu. Kita tinggal memantiknya saja, sehingga kemampuan yang sudah lama padam itu kembali menyala.Dalam proses memantiknya ini, Mas Rifa’i juga menjabarkan tentang mindset-mindset yang harus ditanamkan oleh penulis. Dengan mindset-mindset ini, harapannya menulis bukan lagi menjadi kewajiban dan beban, tetapi sudah menjadi bagian dari diri kita. Kita engga merasa wajib menulis, tapi kita merasa butuh menulis. Beberapa mindset itu terbagi menjadi tiga poin, yaitu:
1. Menulis itu belajar
Pernah engga sih merasakan kebuntuan ide atau writer’s block?Kalau aku, pernah banget. Saat aku mengeluhkan hal itu, temanku cuma menyarankanku untuk membaca. Iya, itu saja. Sejak itulah, setiap merasa buntu dan engga tahu mau menulis apa (padahal di kepala ini banyak banget idenya), aku harus merajinkan diri untuk membaca referensi-referensi terkait dan latihan berulang kali (kalau kondisinya menulis untuk hal teknis, ya). Setidaknya, itu bisa membantu aku untuk membuat tulisan yang baik, informatif, dan menarik.
Sama seperti keterampilan lain, untuk bisa membuat tulisan yang baik juga memerlukan proses yang konsisten. Semakin sering menulis, semakin baik tulisan kita. Tulisan pertama tentunya wajar kalau masih berantakan. Tetapi tulisan ke seratus, ke seribu, insyaAllah jauh lebih baik.
2. Menulis itu berbagi
Kata penulis buku ini, jangan pernah meremehkan sesederhana apa pun tulisan kita. Ketika menulis, niatkanlah untuk berbagi inspirasi, semangat, dan ilmu. Karena kita engga akan pernah tahu kalau pengalaman yang menurut kita sepele ternyata sangat berharga bagi orang lain. Kita juga engga akan pernah tahu kalau ternyata ilmu dan wawasan yang menurut kita sederhana ternyata sangat berguna di mata mereka.3. Menulis itu prasasti pikiran
Penulis di buku ini juga mengatakan bahwa pemikiran yang engga diabadikan dalam tulisan sangat mudah menguap begitu saja. Itulah mengapa wasiat klasik mengungkapkan,“Ikatlah hikmah dengan menuliskannya”Sebagai anak yang gampang lupa, menulis menjadi solusi yang tepat untukku. Bagiku, menulis bukan hanya sebagai prasasti pikiran, tapi juga bisa mengingatkanku kembali tentang apa saja kegiatan yang sudah dilakukan, apa saja ilmu yang telah didapatkan, hingga berapa banyak uang yang sudah dihabiskan.
Prinsip Menulis
Ada beberapa prinsip menulis yang dibagikan oleh Mas Rifa’i di buku ini. Prinsip-prinsip ini ditulis dengan harapan supaya kita bisa percaya diri untuk tetap menulis.1. Semua bisa menjadi penulis
Kalau dalam istilahnya Mas Rifa’i, gak penting kita lulusan mana, gak penting usia kita berapa, gak penting apa pekerjaan kita, yang lebih penting adalah kita bisa apa?Ia meyakinkan kepada kita bahwa semua orang memiliki peluang untuk menjadi penulis. Karena menurutnya, menjadi penulis itu tidak hanya tentang seberapa banyak orang yang membaca tulisan kita. Itu adalah nilai plus. Ada yang jauh lebih penting, yaitu mengembangkan diri kita sendiri.
2. Semua hal bisa ditulis
Penulis buku ini berprinsip bahwa, apa yang dirasanya bermanfaat, itulah yang ia bagikan. Semua hal yang kita lihat, peristiwa yang kita alami, pengalaman yang kita miliki, bacaan-bacaan yang kita nikmati, kajian-kajian yang kita ikuti, semuanya bisa menjadi ide segar untuk kita tuliskan.Dengan berprinsip seperti itu, maka kita akan memiliki ide yang berlimpah. Tinggal kita yang mengolahnya menjadi bahasa yang ringan supaya gampang dipahami oleh pembaca.
3. Semua tulisan ada yang butuh
Tulisanku ada yang baca engga ya?Tulisanku ada yang butuh engga ya?
Tulisanku ada yang bermanfaat engga ya?
Dulu, aku selalu overthinking dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Ada yang sama engga?
Sampai akhirnya aku jenuh sendiri dan enggan untuk melanjutkan lagi tulisannya. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini juga sering bermunculan setiap kali membuat keputusan lainnya. Sehingga, ini justru bikin aku menyesal karena aku terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berpikir daripada beraksi.
Pada bagian ini, Mas Rifa’i meyakinkan bahwa setiap dari kita pasti memiliki gagasan emas untuk dituangkan dalam tulisan. Meskipun saat ini engga ada seorang pun yang memujinya, tapi penulis yang memiliki mindset seperti ini akan tetap mengeksekusinya.
Sebab ia yakin betapa berharganya ide tersebut jika dibiarkan lewat begitu saja. Ia juga percaya jika suatu saat ide itu akan bertemu dengan orang yang membutuhkan, bahkan bisa jadi ide itu akan diakui dunia.
Bagaimana? Sampai di sini sudah kebentuk belum motivasi menulisnya?
Semoga reviu atau ulasan ini bisa memberikan motivasi untuk aku, kamu, dan kita semua untuk menulis, ya. Kalau belum, mungkin ada baiknya untuk membaca buku ini secara langsung supaya engga hanya motivasinya aja yang dapet, tapi teknisnya juga. Apalagi buat kalian yang bercita-cita pengen menerbitkan buku. Recommended sih untuk dibaca.
Untuk teknik penyampaiannya juga engga perlu diragukan lagi deh kalau penulisnya Ahmad Rifa’i Rif’an. Kata demi kata dirangkai dengan bercerita, membuat kita seolah-olah seperti sedang diceritakan secara langsung. Palingan ya, ada yang sedikit kaku untuk bagian yang menjelaskan tentang data itu. Itu pun sedikit ya, jadi masih tetap bisa dipahami, kok.
Judul Buku: Generasi Menulis
Penulis: Ahmad Rifa’i Rif’an
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2020
Jumlah Halaman: 244 halaman (versi EPerpusdikbud)
Semoga reviu atau ulasan ini bisa memberikan motivasi untuk aku, kamu, dan kita semua untuk menulis, ya. Kalau belum, mungkin ada baiknya untuk membaca buku ini secara langsung supaya engga hanya motivasinya aja yang dapet, tapi teknisnya juga. Apalagi buat kalian yang bercita-cita pengen menerbitkan buku. Recommended sih untuk dibaca.
Untuk teknik penyampaiannya juga engga perlu diragukan lagi deh kalau penulisnya Ahmad Rifa’i Rif’an. Kata demi kata dirangkai dengan bercerita, membuat kita seolah-olah seperti sedang diceritakan secara langsung. Palingan ya, ada yang sedikit kaku untuk bagian yang menjelaskan tentang data itu. Itu pun sedikit ya, jadi masih tetap bisa dipahami, kok.
Judul Buku: Generasi Menulis
Penulis: Ahmad Rifa’i Rif’an
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2020
Jumlah Halaman: 244 halaman (versi EPerpusdikbud)
Posting Komentar
Posting Komentar