Reviu Buku Si Anak Kuat Karya Tere Liye - Anak Bungsu Wajib Baca

Posting Komentar

Novel ini mengisahkan tentang Amelia, seorang anak bungsu dari empat bersaudara. Jika anak bungsu biasanya terkenal sebagai ‘si penunggu rumah’, ‘si anak manja’, dan label lain yang kurang mengenakkan, maka buku ini justru menepis stereotip tersebut. 

Di awal cerita, Amel merasa sering disuruh oleh orang tua maupun kakak-kakaknya, yaitu Eliana, Pukat, dan Burlian. Selain itu, ia juga merasa selalu mendapatkan barang lungsuran dari Kakak pertamanya. Namun, pemikirannya mulai berubah setelah beberapa kejadian penting, mulai dari ketika dihukum oleh kedua orang tuanya, dinasihatin oleh bapaknya, hingga ketika ia jatuh saat pulang membawa kayu bakar dari ladang menuju rumah bersama Kak Eli. Momen saat Kak Eli menggendong adiknya itu menjadi salah satu cerita yang paling menyentuh dan berkesan bagi saya di novel ini. 
Buku Si Anak Kuat
Sebagai tokoh utama, Amel digambarkan sebagai anak bungsu yang kuat. Orang tua hingga masyarakat setempat mengenalnya sebagai anak yang paling teguh hatinya dan kuat pemikirannya.

Begitu pula dengan tiga sahabatnya, yaitu Maya, Tambusai, dan Chuck Norris yang ternyata juga anak bungsu. Perjuangan mereka ketika menyemai benih kopi di kampung membuktikan bahwa anak bungsu tidak selalu digambarkan sebagai anak yang gampang nangisan seperti yang sering dianggap oleh masyarakat pada saat itu. 

Meskipun tebalnya 425 halaman, tapi novel ini jauh dari kata membosankan. Kelihaian Bang Tere dalam merangkai setiap kata sudah engga perlu diragukan lagi deh. Beliau mampu menyeimbangkan proporsi show and tell sehingga pembaca dapat larut dalam cerita tanpa merasa ambigu. Apalagi sudut pandang yang digunakan adalah orang pertama. Sehingga membuat kita seolah-olah sedang membaca autobiografinya Amelia sendiri. Sudut pandang inilah yang membuat cerita terasa hidup dan lebih emosional, mulai dari kisah yang membuat ketawa sampai kisah yang sedih semuanya terasa.

Latar desa yang diangkat pada buku ini tergambar dengan jelas dan detail, sampai-sampai membuat saya teringat kembali pada masa kecil saya di desa selama kurang lebih lima tahun. Persis sekali, seperti bagaimana masyarakat desa memasak dengan kayu bakar karena minyak tanah harganya mahal. Kayu yang dipakai untuk masak pun harus kayu yang kering. Kayu engga boleh terkena hujan karena api bakal susah menyala jika kayunya basah. 

Pesan Moral dalam Novel Si Anak Kuat

Banyak pesan moral dalam novel ini yang dituangkan melalui dialog karena nasihat disampaikan secara langsung. Berikut adalah beberapa pesan moral yang menurut saya bagus. Kalau mau lebih banyak lagi, bisa dibaca saja novelnya langsung.
1. “Membicarakan aib orang lain adalah pekerjaan bergunjing. Dosanya besar. Allah membenci orang yang bergunjing. Jika yang kita percakapkan itu benar, jatuhnya tetap bergunjing. Jika hanya desas-desus, itu termasuk fitnah keji.” (Halaman 110-111)
Salah satu halaman di buku Si Anak Kuat
2. “Doa adalah benteng pertahanan terbaik. Doa juga sekaligus senjata terbaik bagi setiap muslim.” (Halaman 242)
Kutipan ini disampaikan oleh Nek Kiba, guru mengajinya Amel. Ini juga bakal menjadi kutipan favorit saya sih. Soalnya Nek Kiba juga menyampaikan cerita tentang Rasulullah yang meminta Auf bin Malik untuk perbanyak mengucapkan “La Haula Wa La Quwwata Illah Billah” dengan sungguh-sungguh saat putranya ditawan oleh musuh sekaligus penjahat di luar kota.
3. “Islam menegaskan bahwa penting sekali melakukan sesuatu dengan ilmu. Seseorang yang mengerjakan amal, tetapi tidak tahu tujuannya, tidak paham ilmunya, maka itu ibarat anak kecil yang disuruh mendirikan rumah. Tidak tegak tiangnya. Ilmu adalah sesuatu baik berupa lisan maupun tulisan yang mendasari sebuah perbuatan dan dalil yang menjelaskan secara benar alasan dari perbuatan yang kita lakukan.” (Halaman 350-351)
4. “Sepanjang kau tahu persis apa yang kaulakukan, cakap orang lain tidak perlu terlalu dimasukkan ke dalam hati.” (Halaman 361)
5. “Banyak orang hanya bicara tentang hal-hal hebat, tetapi tidak pernah konkret. Setiap perubahan membutuhkan proses panjang. Kadang proses itu mudah dilakukan, bahkan menyenangkan. Kadang sebaliknya, menyakitkan, makan hati. Karena orang-orang sudah terlanjur nyaman dan terbiasa. Namanya juga diminta berubah. Anak kecil pun melawan saat diminta berubah.” (Halaman 389-390)
6. “Ketika tidak ada lagi yang bisa kau buat, setelah begitu banyak usaha terbaik dilakukan, maka saatnya untuk bersabar. Cepat atau lambat, keajaiban akan tiba. Ketika tiba, keajaiban itu datang tak tertahankan. Tembok paling keras pun runtuh. Batu paling besar pun berlubang oleh tetes air hujan kecil yang terus-menerus.” (Halaman 400)

Penutup

Anyway, saya benar-benar jatuh cinta dengan novel ini. Bukan hanya karena tokoh utamanya bernama Amelia dan punya hobi membaca seperti saya, tetapi karena cerita yang dibawakan ini sederhana dan sarat makna. Tidak heran jika novelnya Tere Liye yang serial Anak Nusantara ini menjadi serial mahkota dari sekian banyak serial lainnya. 

Tidak hanya untuk anak bungsu, buku ini juga cocok dibaca oleh siapa saja, mulai dari anak sulung, anak tengah, remaja, dewasa, hingga orang tua. Karena novel ini juga menyoroti bagaimana orang tuanya Amel membesarkan keempat anak mereka dengan nilai kejujuran dan ketekunan. Selain itu, sosok Pak Bin—guru satu-satunya di kampung mereka—yang tulus mengajar dan mendidik anak-anak di desa tersebut membuat saya terharu sekaligus mengingatkan saya akan kebaikan guru-guru yang pernah dicurahkan kepada saya. 

Semoga reviu buku ini bermanfaat. 

Judul Buku: Si Anak Kuat
Penulis: Tere Liye
Penerbit: PT Sabak Grip Nusantara
Jumlah halaman: 425 halaman
Cetakan: Ke-5, September 2022
Rating: 4,8/5,0

Related Posts

Posting Komentar