Mengenal Hakikat Kebahagiaan Sejati, Reviu Buku Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye

Posting Komentar

Buku ini berisikan dongeng-dongeng inspiratif yang diceritakan oleh ayahnya Dam. Salah satu cerita yang hebat dari novel ini adalah suku penguasa angin. Kisah itu juga dijadikan sebagai gambar sampul buku ini, yaitu gambar layang-layang yang bergerak di atas langit bersamaan dengan hembusan angin.
Ayahnya Dam menceritakan betapa sabarnya suku Penguasa Angin dalam menghadapi penjajah yang pada saat itu sudah punya teknologi lebih canggih daripada mereka. Kala itu, leluhur Tutekong—tetua paling bijak pada saat itu—justru memilih untuk tidak melawan penjajah. Namun, ia meminta kesempatan berunding agar mereka tetap dibiarkan hidup dengan budaya suku mereka meskipun wilayahnya dijajah. Anyway, para penjajah ini memiliki strategi yang licik untuk menguasai wilayah tersebut, yaitu dengan mengubah lahan yang tadinya berupa padang rumput menjadi hamparan tembakau yang mahaluas. Kondisi tersebut membuat maraknya industri-industri sigaret yang mengerikan karena setiap batang candu dapat melemahkan orang-orang yang menghisapnya, termasuk para pemuda gagah dan para penggembala perkasa. Mereka terlena dalam kenikmatan sesaat sehingga anak-anak penggembala menjadi malas belajar dan tidak peduli masa depan.

Bukannya Suku Penguasa Angin pengecut, tetapi mereka terlalu bijak untuk melawan kekerasan dengan kekerasan. Makanya, leluhur Tutekong memutuskan untuk menjaga kebijakan hidup mereka selama mungkin. Ia mendidik anak-anak mereka untuk membenci ladang-ladang tembakau tanpa harus melawannya. Langkah ini justru menjadi keyakinan bahwa mereka akan bertahan lebih lama daripada keserakahan penjajah. Hingga akhirnya, dua ratus tahun kemudian semesta berpihak kepada kesabaran dan ketangguhan mereka.

Kehidupan di klan besar itu kemudian menjadi sehat dan baik. Kondisi itu digambarkan dengan tanahnya yang paling subur, sungai mengalir paling bening, empat gunung berselimut salju, empat danau membiru, dan danau menjadi hamparan es saat musim dingin. Selain itu, masyarakat di sana juga suka bergurau dan bermain-main. Kehidupan dan peradaban mereka bagaikan musik indah yang diputar terus-menerus.

Apakah ini cerita nyata? Atau hanya karangan ayahnya Dam saja?

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita ini, ayahnya Dam sebenarnya ingin memberikan amanat kepada putranya sekaligus kedua cucunya yang bernama Zas dan Qon. Cerita tersebut mengajarkan bahwa musuh terbesar sebenarnya adalah diri kita sendiri. Suku Penguasa Angin sebenarnya tidak sedang melawan penjajah, tetapi mereka sedang melawan diri mereka sendiri. Mengapa demikian? Karena secara tidak langsung, mereka harus melawan rasa tidak sabar, menundukkan amarah, dan melawan kekerasan di hati.

Ada juga cerita tentang Sang Kapten, yakni idola beratnya Dam yang berhasil mengajarkannya menjadi seorang perenang gigih walaupun saat itu ia harus menghadapi berbagai cobaan akibat persaingan tidak sehat.

Ayahnya Dam menceritakan fakta di balik kehebatan Sang Kapten yang pada masa itu dikenal sebagai pemain sepak bola terhebat. Sebelum reputasinya terkenal, Sang Kapten adalah seorang tukang antar sup jamur dengan sepeda dan memiliki rambut keriting yang bentuknya sama seperti Dam pada saat itu. Namun, keterbatasan tersebut tidak meredupkan mimpinya. Sang Kapten menghabiskan masa senggangnya dengan menendang-nendang bola kasti di belakang restoran. Bola itupun sebenarnya bukan bola bagus selayaknya bola baru, tapi ia sendiri mendapatkannya dari tempat sampah.

Reviu Buku Ayahku (Bukan) Pembohong

Tidak dipungkiri, mula-mula kita akan menganggap bahwa cerita ayahnya Dam itu hanyalah karangannya saja. Cerita tentang Suku Penguasa Angin, Sang Kapten yang katanya pernah dekat sama ayahnya Dam, Si Raja Tidur, apel emas, Lembah Bukhara, dan danau para sufi, itu terdengar aneh di telinga kita, bukan?

Tapi detik-detik menuju penghujung cerita, kita akan dikejutkan dengan plot twist yang tidak terduga. Inilah salah satu kelebihan Tere Liye. Ia berhasil merangkai cerita yang seru dan emosional sehingga kita pun penasaran untuk membaca bagian-bagian selanjutnya.

Masih banyak lagi kisah-kisah inspiratif yang intinya memperkenalkan kepada kita, terutama saya sendiri tentang kebahagiaan sejati. Membaca buku ini bagaikan pelipur lara untuk kita yang tengah merasa capek dalam menghadapi konflik duniawi yang tiada henti.
Meskipun ini cerita fiksi, tapi menurut kalian apakah metode mendongeng seperti ayahnya Dam ini masih relevan untuk anak-anak saat ini? Mengingat sekarang internet sudah dapat diakses oleh semua orang dari berbagai usia, termasuk anak-anak.
Coba tulis pendapatmu di kolom komentar, ya.

Bonus

Ada dua pesan yang menurut saya perlu digarisbawahi karena keren. Langsung dipoinkan saja ya pesannya.
1. Yang menghina belum tentu lebih mulia dibandingkan yang dihina. Bahkan kebanyakan justru menghina diri mereka sendiri dengan menghina orang lain. (Halaman 38)
2. Hidup harus tetap berlanjut, tidak peduli seberapa menyakitkan atau seberapa membahagiakan, biarkan waktu yang menjadi obat. Kau akan menemukan petualangan hebat berikutnya di luar sana. (Halaman 242)


Judul Buku: Ayahku (Bukan) Pembohong
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sabak Grip Nusantara
Tebal Halaman: 300 halaman
Cetakan ke-5, Oktober 2023
Rating: 4/5
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar